Panggung Sandiwara
Malam ini aku menghadiri resepsi pernikahan seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sebenarnya yang diundang bukan aku, tetapi karena yang mengundang adalah bekas teman sekantor, dan yang diundang tidak mau berangkat sendiri jadilah kami berdua menghadiri pesta. Ternyata yang berhajat adalah alumni salah satu sekolah tinggi yang beberapa waktu lalu heboh dengan peristiwa tragis dan memilukan, penyiksaan, aborsi, pemerkosaan hingga pembunuhan telah terjadi di sekolah berasrama ini.
Resepsi diawali dengan prosesi “militer”, beberapa pria muda berseragam putih – putih melakukan atraksi baris berbaris. Lama aku termenung melihat kesigapan para pemuda ini. keagungan adat budaya yang biasa kusaksikan pada pernikahan “orang biasa” tak nampak disini, terganti oleh ritual megah para alumni sekolah maut itu.
Ingatanku kembali melayang kebarisan peristiwa diawal tahun lalu. Setelah kematian salah seorang siswa, puluhan kasus lainpun mencuat kepermukaan, satu demi satu borok mengeluarkan bau busuk dan nanah, hancur tak bersisa.
Hentakan kaki para “prajurit” menyambar telingaku hingga aku kembali sadar bahwa prosesi ini cukup lama juga. Begitu anggun, mengarak kedua mempelai kesinggasananya. Beginikah semuanya berakhir? Apakah semua borok dan kusta itu sudah sembuh, sebersih ini, megah dan berseri, tanpa cacat tanpa masa lalu yang suram. Beginikah masyarakat ini memperlakukan calon pembesar ini, yang mungkin saja dimasa lalu merupakan bagian dari tradisi gila dan penyiksaan itu. Entah kenapa semua yang hadir seperti bangga dan tersenyum puas, mungkin karena pemuda itu adalah anak seorang pembesar disini atau mereka hanya pura-pura menikmati kebodohan ini. Andai saja roh Cliff Muntu datang dan mengacaukan pesta seperti di film-film horor. Andai saja bayi-bayi yang dipaksa mati oleh para siswi itu datang dan mencekik kami semua yang sedang menikmati makanan yang enak-enak ini. Andai saja …..ah kau itu, kenapa terlalu jauh berandai-andai. Bukankah semua orang sudah melupakannya? Yah iya sih… tapi kenapa terlalu mengedepankan kebodohan ini, seandainya saja dengan adat yang biasa saja seperti pernikahan orang biasa. Bukankah lebih sacral dan manis. Tetapi itulah masyarakat ini, yang penting adalah kulit dan permukaan, tak ada lagi rasa malu, tak ada lagi kesederhanaan dan dialog batin yang bijak untuk menyikapi segala peristiwa. Yang penting adalah anakku orang hebat. Calon lurah

